Pencuri Cincin Kramat Alm. Dalang Ki Enthus Susmono Serahkan Diri

INDONESIASATU.CO.ID:

Tegal. Seminggu sebelum Dalang Ki Enthus Susmono meninggal dunia pada hari Selasa, (15/5) atau Rabu dalam hitungan Jawa, tepatnya hari Kamis, (10/5) Cincin kesayangannya tersebut hilang dicuri orang.

Diduga pelakunya seorang haji berinisial S warga asal Jatibarang, Kabupaten Brebes menyerahkan diri pada hari Minggu, (20/5) ke tempat kediaman Almarhum Ki Enthus Susmono dan selanjutnya diserahkan ke Polsek Talang, kabupaten Tegal.

Pihak kepolisian sektor Talang, kabupaten Tegal membenarkan kejadian tersebut dengan membawa seseorang berinisial S yang diamankan anggota Polsek Talang dari rumah almarhum Dalang Ki Enthus Susmono sekaligus merupakan Sanggar Wayang Satria Laras.

" Ooh sudah selesai itu, sudah diselesaikan secara kekeluargaan," Kata Kapolsek Talang AKP. Sunyarni, SH super singkat pada Kantor Berita Online Jurnalis Indonesia Satu (JIS), yang ditemui di kantor Polsek Talang, Senin, (21/5).

Entah kenapa Kapolsek yang ditemani Kanit Reskrim Talang, Aiptu Sumarsono itu meninggalkan Jurnalis Kantor Berita Online JIS begitu saja tanpa alasan sedikitpun menuju ruangan dibelakang kantor Polsek.

Sementara itu sesuai penuturan sumber dilingkungan Sanggar Wayang Satria Laras yang tidak mau disebutkan namanya, menyampaikan kejadian saat Ki Enthus sedang berebah diri di kursi rusbang di rumahnya juga merupakan sanggar wayang Satria Laras. Seperti kebiasaan saat merebahkan diri, dia melepas cincin jenis Pirus (Turquise) yang menjadi kecintaannya.

Hari itu Kamis (10/5), seperti biasa rumah yang juga sebagai sanggar wayangnya itu  selalu dikunjungi simpatisan dimana enthus sendiri tidak banyak mengenali satu persatunya. Namun gaya egalitariannya itu ternyata tidak selamanya positif. Sebab  satu dari sekian banyak tamu diantaranya rupanya beritikad kurang baik alias mencuri.

Diduga haji S warga asal Jatibarang, kabupaten Brebes yang sedang berproses kepindahannya ke desa Pesarean, kecamatan Talang kabupaten Tegal itu mengambil cincin tersebut.

Hal itu diketahui dari CCTV yang terpasang diruang sanggar wayang Satria Laras. Dari hasil CCTV, identitas pelaku berdasarkan informasi sebagai warga desa Pesarean. Ketika dilakukan klarifikasi kepada kepala desa Pesarean, Kades mengenali orang difoto itu bernama Haji S.

Haji S sulit ditemui namun dapat dihubungi melalui telepon. Menurut sumber tersebut haji S tidak menepati janjinya untuk mengembalikan cincinnya.

" Kaji S janji kembalikan cincin itu. Tapi sampai abah ( panggilan para pengikut Enthus dengan sebutan abah - red ) meninggal dunia, belum juga dikembalikan. Kita seperti dipermainkan," Ujar sumber itu. Bahkan disebutkan Ki Enthus saat itu berpesan kalau pelakunya tertangkap untuk tidak dihakimi.

" Adong sing nyolong kecekel tulung aja diapak-apakna, aja dikepruki, sing penting ali-aline balik. Enyong luwih apik ilang mobil ketimbang ilang cincin kuwe," Ujarnya menirukan ucapan Enthus saat itu dalam bahasa Tegal.

Namun hingga Dalang Ki Enthus meninggal dunia, cincin masih belum dikembalikan. Akhirnya haji S dapat dibujuk orang sanggar Satria Laras untuk menyerahkan diri dan mengembalikannya.

" Akhirnya kaji ini setelah enam hari meninggalnya abah, mendatangi sanggar Satria Laras dan menyerahkan cincin atas bujukan jaminan keselamatan," Tambah sumber tadi pada Kantor Berita Online Jurnalis Indonesia Satu, Minggu (21/5).

Haji S yang dikenal profesinya sebagai tukang uka-uka atau yang berkaitan dengan persoalan jimat, pada awalnya tidak bersedia memberikan keterangan pada para simpatisan Enthus-Umi yang melakukan 'interogasi' menyangkut motivasi pencurian cincin itu.

Namun setelah berbagai ukuran bogem mentah mendarat di wajahnya, haji S baru memberikan keterangan yang cukup mengejutkan. Bahwa dirinya mendapatkan job order yang diduga dari seseorang berinisial L yang merupakan salah seorang Timses paslon lawannnya Enthus-Umi. Selanjutnya haji S sendiri dijemput seorang anggota Polsek Talang untuk dibawa ke kantor kepolisian sektor Talang, Kabupaten Tegal.

Dari pengakuan haji S itulah berkembang spekulasi seputar mangkatnya Dalang Ki Enthus Susmono. Ditengah masyarakat, mulai banyak bergulir cerita menyangkut pola kerja dunia persantetan. Proses penyantetan memerlukan medium yang sangat dicintai objek penyantetan yang dimiliki serta proses kerja waktunya tidak lebih dari satu minggu untuk memprospek target sasaran.

“ Biasanya mereka bekerja tidak melebih satu minggu semenjak barang yang paling dicintai dikuasai, tapi semua tetap kita kembalikan pada sang pencipta,” Demikian Abdul Nasser yang cukup lama mengamati persoalan uka-uka atau dunia sejenisnya. ( Anis Yahya )

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita