Pentas Pertunjukan JPRUTT Bercerita Tentang Kurang Percaya Diri dan Keajaiban dari perbedaan

INDONESIASATU.CO.ID:

JAKARTA ; Setelah sukses di Bentara Budaya, kini Teater Mandiri  kembali mementaskan JPRUTT di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 28 -29  April 2018. Lakon JPRUTT diangkat dari 5 drama pendek (drapen) karya Putu Wijaya, dengan total durasi 90 menit.

Putu Wijaya selaku sutradara mengatakan pada saat saya membuat JPRUTT ini, saya bekerja sangat cepat kurang dari seminggu. Saya ini terbiasa kerja itu hanya satu atau 2 hari dan seminggu udah termasuk lama, jika ditunda malah takut ada muncul ide lain, ujar Putu yang ditemui seusai pertunjukan berakhri, Sabtu(28/4)malam.

Ide dasar cerita ini adalah jika kita berbicara kagum terhadap orang apapun yang dikatakan oleh orang barat rasanya benar tetapi jika dikatan oleh kita sendiri itu salah, kata Putu.

Sering kali kita berbicara mengunakan bahasa asing orang baru percaya. Kekurangan percaya sendiri atau kurang objektif kepada kita sendiri dan lebih percaya kepada orang lain, harusnya kita percaya kepada diri sendiri ,kita akan menjadi pribadi yang kukuh atau kuat, ungkapnya

Putu mengharapkan dengan kita menyadari kita ini bangsa yang besar dengan penduduk yang besar dan terdapat banyak aneka ragam di dalamnya, kita bisa saling bersatu menerima perbedaan sebagai kelebihan, karena dengan perbedaan kita bisa semakin sempurna.

Perbedaan di Indonesia merupakan suatu keajaiban dunia karena di dunia tidak ada bangsa dunia yang seperti kita dengan begitu banyak perbedaan ada 17.000 pulau, 714 suku bangsa dan 1100 bahasa tetapi bisa memakai hanya satu bahasa yaitu bahasa Indonesia, ini kita harus anggap ini sebagai kekayaan yang luar biasa, tutur Putu.

Disini saya ingin mengajak Para pemuda kita untuk mencintai keragaman ,mencintai kesatuan Indonesia sesuai dengan yang terdapat di dalam Pancasila, ujar Putu menutup.


Sinopsis  JPRUTT  ;

Prof. Co dari Amerika berkunjung ke Bali. Untuk melihat gunung Agung meletus. Kemudian ia menulis surat kepada Ami -  yang mengantarnya selama di Bali -  kesan-kesannya.

Prof minta kesannya itu diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia agar Amat, bapak Ami, selaku tuan rumah, bisa membaca.

Tetapi kemudian Pak Amat salah ambil. Dia baca sebuah tulisan Ami, esei untuk Bali Pos yang merupakan introspeksi. Esei itu mengeritik kelambanan kita bereaksi pada segala perubahan. Akibatnya kita baru bangkit sesudah segala sesuatu terjadi. Ami menganggap sikap itu terlambat. Ia menyimpulkan itu adalah kemalasan yang menunjukkan kita serba tidak siap.

Pak Amat menyangka itu pendapat Prof Co. ia merasa Prof sudah menghina. Dia marah sekali. Tapi ibu Agung Prameswari yang mencalonkan diri sebagai Bupati mengutip opini itu, karena menganggap itu introspeksi yang bagus sekali untuk mengobarkan semangat kebangkitan.

Prof Co berusaha untuk menemui Bu Agung kembali untuk menandaskan dia tidak pernah berkata seperti itu. Ia justru memujikan Indonesia adalah negeri ajaib yang bisa menyatukan 1100 suku bangsa dan 714 bahasa dalam: Damai meski berbeda berkat Pancasila.

Di akhir cerita, Ami menandaskan Prof Co tidak pernah mengeluarkan opini yang menghina. Itu adalah opininya pribadi.
"Siapa lagi yang paling pantas mengeritik kekurangan kita kalau bukan diri  kita sendiri,' kata  Ami.

Para Pemain ;
Niniek L. Karim - Bu Agung
Jose Rizal Manua -Prof. Co
DR. Cobina Gillitt -Mrs. Co
Bambang ismantoro - Pak Amat
Laila Ulil - Bu Amat
Rukoyah - Ami
Ari Sumitro - Sugi, suami Ami
Lela lubis - tim sukses
Penny Muhaji - tim sukses

Set : Ari Sumitro
Tata Lampu: Julung ,Imron
Rias dan Kostum : Penny Muhaji
Musik : Ramdhan

(Rik)


 

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita